oleh

Inovasi Pasangan Anak Muda Banyuwangi, Produksi Pupuk Organik dari Limbah Kayu Jati

Banyuwangi – Satu lagi inovasi pertanian dihasilkan dari tangan anak muda Banyuwangi. Mereka adalah Iskandar dan istrinya Lismawati membuat teknologi pupuk organik dari limbah kayu jati sebagai vitamin tanah dan tanaman.

Pasangan asal Desa Siliragung, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi tersebut, mendirikan laboratorium pertanian di lahan belakang rumahnya.

Di ladang berukuran 20×20 meter tersebut mereka melakukan berbagai eksperimen untuk memperbaiki unsur hara tanah dan kualitas tanaman seperti jeruk, buah naga, semangka, dan lainnya.

“Ladang ini bisa disebut sebagai laboratorium uji coba kami. Kami meneliti kualitas tanah dan tanaman dengan memanfaatkan limbah dari pohon jati,” kata Iskandar kepada wartawan, Selasa (4/5/2021).

Mereka membuat pupuk organik cair yang dinamakan Hazzel, berbahan dasar cuka kayu (wood vinegar) dari limbah kayu jati. Mereka juga membuat sendiri alat pengolahan berupa tabung dan pipa berukuran besar menggunakan teknologi pirolisa dan destilasi dengan kandungan senyawa organik fenol dan asam etanoat untuk menghasilkan cuka kayu yang dijadikan pupuk menggunakan

Baca Juga  Peluncuran Traktor Robot untuk Pertanian

Menurut Iskandar, sebenarnya dengan alat ini bisa mengolah berbagai jenis kayu juga plastik, namun limbah kayu jati memiliki kualitas cuka kayu yang lebih bagus.

“Terutama kualitas kayu jati dari Banyuwangi, paling bagus dibandingkan daerah lainnya,” kata Alumni Fakultas Pertanian Universitas Samratulangi Manado itu.

Iskandar mengatakan tiap tiga bulan dia membutuhkan 4 ton limbah kayu jati yang menghasilkan 6.000 liter pupuk.

“Selama ini 6.000 liter pupuk itu selalu habis untuk memenuhi kebutuhan pupuk terutama di luar Jawa, seperti Papua, Sulawesi, dan lainnya. Kami menjual secara online dan offline,” kata Iskandar.

Baca Juga  Kasus Covid-19 di Temanggung Terus Menurun Jadi Level 3

Sementara Liismawati menjelaskan mereka memulai laboratorium pertaniannya tiga tahun lalu dengan meneliti sekam kayu. Ternyata kayu yang paling bagus adalah kayu jati. Sejak itulah mereka fokus pada limbah kayu jati.

Untuk mendapat limbah kayu jati, menurut Liismawati telah ada pemasoknya sendiri. “Biasanya dikirim. Tapi kami akui masih membutuhkan banyak pasokan limbah kayu jati,” kata perempuan yang akrab disapa Liis tersebut.

Liis menjelaskan fungsi dasar dari cuka kayu pada dasarnya adalah pestisida dan isektisida. Dengan teknologi yang digunakan saat ini produk hazzel yang mereka hasilkan bisa diaplikasikan tidak hanya untuk pertanian saja.

Selain bisa dijadikan pupuk organik cair, produk ini juga bisa digunakan untuk vitamin hewan, obat penyakit kulit pada hewan, obat kesuburan hewan peliharaan, dan kecantikan.

Baca Juga  Gus Yasin Imbau Petani Gunakan Pupuk Organik untuk Antisipasi Keterbatasan Pupuk Bersubsidi

Salah satu petani yang memanfaatkan pupuk Hazzel adalah Yatiran. Petani buah naga itu mengatakan setelah menggunakan produk ini buah naga yang dihasilkan lebih padat walau ukurannya kecil.

“Meskipun ukurannya kecil tapi lebih padat dibandingkan sebelumnya. Buahnya lebih glowing di dalam. Masa panennya juga lebih pendek,” katanya.

Sementara Bupati Ipuk mengaku sangat mengapresiasi pasangan ini yang tekun berkutat di sektor pertanian. Di tengah langkanya kiprah anak muda di sektor pertanian, justru ada pasangan muda yang melakukan terobosan.

“Ini sangat keren sekali. Bisa menjadi contoh bagi anak muda lain untuk ikut memajukan pertanian daerah. Dan mereka berhasil,” kata Ipuk.

Terkait produknya, Ipuk mengatakan akan mendorong Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi untuk ikut memanfaatkan. (*/cr4)

 

Sumber : jateng.siberindo.co

News Feed